Ketika seorang Mahasiswa Masuk ke Ranah Politik



Nostalgia Kehidupan Kampus, Sebuah Tulisan Jaman Dulu.....He....he.....


Oleh : Asep Syamsul Jazuli




Mahasiswa pada masa lalu (Dari orde Lama-Orde Baru sampai orde reformasi) hampir di katakan satu-satunya kelompok masyarakat Intelektual yang mampu menjadi tempat penyampaian aspirasi masyarakat. Pasalnya,dalam banyak hal para kalangan intelektual lainnya (Baca Dosen dan Para Sarjana) telah di tempatkan pada tempat yang di mana mereka tidak dapat berbuat banyak. Pemerintah ORLA, ORBA dan Orde Reformasi mengajak mereka untuk menjadi bagian dari pemerintah, memberi mereka SK sebagai Pegawai Negeri Sipil yang Notabenennya tidak lagi mampu menjadi bagian yang berani mengatakan sesuatu yang berbeda dengan keinginan pemerintah pada masa itu. Meskipun ada sebagian dari mereka yang masih bertahan dengan Ideologi mereka, hanya saja mereka menjadi kalangan minoritas dalam pemerintahan, dan dengan mudah di batasi pergerakannya.
            Maka datanglah kelompok Intelektual muda yang dengan semangat dan dorongan yang kuat untuk melawan penguasa berdiri di barisan paling depan. Intelektul muda yang terlepas dari segala bentuk kepentingan yang tidak prorakyat mampu menjadi penyalur aspirasi Independen. Hasilnya sangat membanggakan, ORBA yang berkuasa sekitar 32 tahun dengan segala Plus minusnya mampu di lengserkan,meskipun hal itu sangat sulit. Perjuangan mahasiswa pada masa itu benar-benar perjuangan murni, puluhan mahasiswa menunaikan tugasnya untuk mengakhiri hidup mereka di depan moncong senjata para penguasa negerinya sendiri.
Meskipun ada sebagian pengamat politik yang mengatakan pergerakan mahasiswa ini adalah bagian dari Design beberapa orang yang memiliki kepentingan, terlepas dari semua itu kita patut berbangga dengan perjuangan para mahasiswa pendahulu kita.
            Kita menarik ulur waktu sampai saat ini, mahasiswa tidak lagi menjadi bagian kelompok yang mampu menyampaikan aspirasi masyarakat dengan murni. Kita tidak boleh lagi bernostalgia terlalu lama mengenang masa-masa jaya pergerakan mahasiswa tempo dulu. Karena hari ini,mahasiswa di identikkan dengan sekelompok manusia yang anarkis dan penuh dengan kepentinngan-kepentingan kelompok dan golongan. Mahasiswa menjadi sasaran empuk para politisi senior, alasannya sederhana pertama mahasiswa adalah orang-orang yang memiliki keinginan kuat,di doktrin sedikit Lewat!!. Kedua kalangan mahasiswa adalah kelompok yang memiliki jaringan persaudaraan yang sangat erat sesama Jurusan/Fakultas,jaringan inilah yang kemudian di lirik oleh para politisi untuk di manfaatkan dalam penggalangan Massa,maka di tariklah orang yang memegang peran penting dalam kelompok mahasiswa tersebut.\
            Selanjutnya,tidak dapat di pungkiri kehidupan kampus para mahasiswa saat ini lebih mengarah kepada Fun dan Fashion kemudian mereka (Mahasiswa) yang memiliki pengaruh dalam kelompok-kelompok tersebut lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berdiskusi di warung kopi dengan puluhan batang rokok yang menemani,dan para politisi mampu membaca ini,lagi-lagi mereka di sentuh dengan pendekatan pragmatis. Para pemilik kepentingan berani mengeluarkan dana untuk mensuplay kebutuhan mahasiswa yang memiliki power (Paling tidak biaya kopi+rokok) . jika hal ini telah terjadi maka sudah barang tentu mahasiswa dengan mudah di gerakkan,demi kepentingan para politisi. Tanpa sadar mahasiswa terus ikut ke dalam permainan ini,meskipun sebagian dari mereka tidak menyadari bahwa mereka di manffatkan untuk kepentingan para politisi ini. Belum lagi ketika ada pemilihan umum,mahasiswa di manfaatkan untuk menjadi Tim Sukses untuk para kandidat.
            Apakah hal ini salah? Dengan gamblang saya berani mengatakan belum tentu mereka salah. Mahasiswa adalah kelompok yang memiliki daya analisa yang kuat, mereka telah memikirkan apa yang menjadi pikihan mereka. Hanya saja jika merasa belum matang dalam berpolitik, tahanlah dulu keinginan itu. Menjadi Tim sukses selain dapat memperbaiki posisi dalam jaringan, mendapat banyak keuntungan financial (Bagi mereka yang berfikir Pragmatis) akibatnya juga sangat fatal, hal ini sebenarnya mampu memperpendek langkah mahasiswa tersebut,mahasiswa tersebut juga dengan mudah di tebak dan di prediksi setiap pergerakan yang di lakukannya.Tidak bisa di pungkiri bahwa, masuk ke dalam ranah politik adalah sebuah pilihan. Tapi sebelum ke sana ,anda harus belajar dulu, harus mempu membaca kondisi dan keadaan, harus memperhatikan lawan dan kawan, atau intinya harus matang dulu.
            Ketika Berpolitik menjadi pilihan mahasiswa, maka hal ini sebenarnya sangat sensitive, mahasiswa harus melihat posisinya sebagai masyarakat kampus, yang belakangan ini orang-orang kampus atau yang punya yayasan pun banyak yang terjun ke politik bahkan ada yang menjadi Kepala Daerah. Jadi posisi anda di kampus masih sangat mudah di patahkan. Jadi perlulah anda berfikir berulang-ulang sebelum memilih politik sebagai pilihan hidup. Mengambil keputusan mungkin sangat mudah,satu menit jadi tapi sebelum memilih keputusan tersebut perlu banyak waktu untuk berfikir, dan setelah memilih keputusan maka yang paling sulit adalah bertahan pada pilihan tersebut, komitmen mungkin gampang,tapi untuk konsisten terhadap komitmen bisa saja menjadi hal yang sangat sulit.
Hidup Mahasiswa !!!!!!

Penulis adalah Alumni HMI Cabang Sumedang.  



Previous Post Next Post