Menjadi Mahasiswa dan Idealisme



Masih Seputar Nostalgia Kehidupan Kampus, Sebuah Tulisan Jadul.............

 

Oleh : Asep Syamsul Jazuli

( Alumni HMI Cabang Sumedang )

Perubahan ‘jabatan’ dari siswa menjadi mahasiswa seperti suatu yang sangat sakral dan membanggakan bagi sebagian besar dari kita. Cukup dengan penambahan suku kata MAHA, menjadikan kata siswa begitu agung dan penuh dengan perubahan. Yang awalnya setiap hari harus menjalani rutinitas di sekolah, dari pagi hingga siang, atau sore dengan pelajaran yang sudah dibakukan menjadi kurikulum, memakai seragam setiap hari. Kemudian seketika, frasa maha itu membuat semuanya berubah. Kuliah dengan waktu yang tidak ber-pakem lagi , dengan mata kuliah yang bisa kita pilih sendiri, dan yang biasanya paling ditunggu-tunggu seorang siswa yang beranjak menjadi mahasiswa adalah, tidak perlu lagi memakai seragam untuk ke kampus. Namun sedemikian sederhana kah perbedaan yang akan dialami dalam proses transformasi dari siswa menjadi mahasiswa? Absolutelly No.
 
Diluar sekenario menyenangkan tentang kehidupan mahasiswa yang bebas, punya tanggung jawab pada dirinya sendiri, bisa memilih jalan yang bagaimana untuk menjalani hidup mereka, dan segala pernak-pernik yang menghiasi kehidupan mahasiswa, cinta, dan aksi.
Ada suatu yang ternyata tak akan pernah dimengerti sebelum menjadi mahasiwa itu sendiri.

Idealisme, satu kata yang begitu sakral bagi mahasiswa kebanyakan. Yang menghiasi setiap langkah kaki mereka menuju kampus untuk menuntut ilmu, dan menuju ke jalan untuk menuntut keadilan. Yang seperti menjadi harga mutlak bagi setiap mahasiswa untuk memilikinya. Menjadi napas kehidupan dan indikasi adanya denyut pergerakan di kampus perjuangan. Apakah hanya itu artian idealisme? mahasiswa adalah raga yang dijiwai idealisme atau itulah yang seharusnya. Akan menjadi kebanggaan bagi mahasiswa saat mereka mampu mengusung panji-panji perjuangan berlandaskan idealisme yang mereka anut. Idealisme-lah yang membawa mereka di puncak pencapaian prestasi, dan idealisme pula-lah yang membuat mereka turun ke jalan memperjuangkan keadilan dan kemakmuran rakyat di negeri ini.

Jadi, seorang mahasiswa bukanlah sekedar robot yang selalu menjalankan rutinitas yang sama setiap saat. Dimana mereka tidak benar-benar mengerti tentang apa yang mereka kerjakan dan untuk apa mereka melakukan itu. Mahaiswa seharusnya bukanlah seperti remaja laki-perempuan di dalam sinetron di televisi yang memberi prosentase 90% untuk cerita cinta mereka sebagai muda-mudi dan 10% untuk belajar. Namun bukan pula orang-orang anarkis yang begitu gemar adu fisik dengan polisi pada saat melakukan unjuk rasa. Mahasiswa yang sesungguhnya bukanlah pemain sinetron, karena hidup mereka di dunia nyata dimana banyak hal yang jauh lebih penting dibandingkan sekedar disibukkan dengan konflik percintaan mereka, yaitu membangkitkan diri untuk berprestasi dan membawa kebermanfaatan bagi lingkungan mereka. Dan juga bukan manusia bar-bar yang terlalu senang mengungkapkan opini mereka dengan tindakan fisik, karena mahasiswa diajarkan untuk berdiplomasi selama itu masih mungkin.

Sebagai iron stock, mahasiswa adalah mata pisau perjuangan manusia Indonesia untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan dari perbudakan ekonomi, kemerdekaan dari kemiskinan, dan kemerdekaan dari segala belenggu yang menghambat sejahteranya masyarakat di bumi pertiwi ini. Menjadi agent of change yang senantiasa membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Dan hal itu bisa dilakukan salah satunya dengan idealisme. Dimana saat idealisme untuk menjadi mahasiswa yang sesungguhnya, yang memiliki intelektualitas tinggi dan nurani telah tertanam dalam diri seseorang, maka ia telah naik ke satu anak tangga menuju terbentuknya mahasiswa yang berkualitas.

Diluar dari semua itu, saya melihat sebenarnya tugas dan tanggung jawab sebaga mahasiswa sangatlah berat. Bolehlah kita mengatakan bahwa kita adalah pemuda harapan bangsa, namun pemuda seperti apakah kita selanjutnya. Masa ini adalah salah satu penentu akan menjadi seperti apakah kita nantinya. Di titik inilah kita mulai membangun idealisme dimana kita mendapat suplai ilmu dan suntikan semangat untuk berlomba memiliki suatu yang begitu diagungkan oleh mahasiswa. Sebuah kata agung bernama ‘idealisme’.

Namun pertanyaan yang sesungguhnya adalah, mampukah kita mempertahankan idealisme kita disaat iming-iming kehidupan ‘makmur’ berada di hadapan kita dan siap sedia berada di dalam genggaman tangan asalkan kita mau menukar idealisme itu dengan berbagai rupa bentuk penghianatan terhadap suatu idealisme. KKN, penipuan, bahkan tindakan kriminal sekalipun banyak dilakukan oleh orang-orang ‘terhormat’ yang dulunya aktif sebagai aktivis yang mengumbar idealism untuk melawan ‘hadiah’ dari zaman Orde Baru berupa korupsi, kolusi dan nepotisme. Melihat hal seperti itu membukakan mata saya bahwa tantangan yang sesungguhnya adalah bukan bagaimana kita bisa memiliki suatu idealisme yang kuat. Tapi bagaimana kita mempertahankan idealism itu tetap kuat disaat kita memiliki kekuasaan dan berada di lingkungan dimana idealisme bisa dengan mudah digadaikan. Itulah tantangan yang sebenar-benarnya.
Saya berharap keberadaan kita menjadi salah satu bagian dari ‘pemuda’ akan mampu memberikan sumbangsi yang pada akhirnya membawa kebermanfaatan bagi diri kita secara pribadi, orang lain, bangsa Indonesia, dan agama yang kita yakini. Terdengar klise memang. Tapi tak ada salahnya berpikiran seperti itu. Dan saya masih berharap, semoga idealisme yang kita semua agung-agungkan itu tidak akan luntur setelah kita terlepas dari status sebagai mahasiswa dan terjun di kehidupan yang sesungguhnya, to the real jungle.
Previous Post Next Post