Bupati Purwakarta H Dedi Mulyadi SH: Membangun Desa, Membangun Peradaban Dunia



Desa harus jadi kekuatan ekonomi. Agar warganya tak hijrah ke kota.
Sepinya desa adalah modal utama. Untuk bekerja dan mengembangkan diri.

PENGGALAN bait tersebut berasal dari salah satu mahakarya sang maestro lagu balada Indonesia, Iwan Fals yang berjudul Desa. Betapa Iwan, yang dijuluki The Asian Heroes oleh majalah Time, sangat memperhatikan dan peduli akan kondisi desa. Desa menjadi akar pembangunan suatu Negara. Bila pembangunan di desa kuat, maka negara pun akan kuat. Sehingga maju dan berkembangnya suatu negara bergantung pada keberhasilan membangun desa. Bahkan, peradaban dunia pun berawal dari peradaban masyarakat desa.

Kepedulian yang setara juga ditunjukkan Bupati Purwakarta H Dedi Mulyadi SH. Tak hanya melalui syair dan ajakan untuk membangun desa, Dedi lebih memilih langkah nyata dalam membangun desa. Bahkan, sejak mencetuskan program 9 Tangga Cinta Purwakarta Istimewa yang pada hakikatnya adalah membangun desa itu sendiri. Membangun desa pun tak sekadar mendirikan bangunan atau akses jalan semata, namun membangun seluruh aspek kehidupan. Mulai dari infrastruktur, membentuk sumberdaya masyarakat desa, hingga norma dan hukum yang berlaku di masyarakat desa.



Terkait kesuksesan membangun infrastruktur, apresiasi pun datang dari Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Marwan Ja’far saat menghadiri pertemuan dan dialog bersama seluruh kepala dan aparatur desa se-Kabupaten Purwakarta, di Pendopo Bale Paseban Purwakarta, belum lama ini. Marwan mengapresiasi program dan implementasi program pedesaan yang sudah dilaksanakan di Kabupaten Purwakarta. “Apa yang sudah dilakukan Bupati Purwakarta dalam program pro-pedesaan harus diapresiasi semua pihak, karena mampu menjadikan Purwakarta sebagai Kabupaten yang paling sukses dalam hal pembangunan infrastruktur.

“Luar biasa, saya kira program Pak Bupati harus kita dukung karena tak sekadar membangun fisik saja, melainkan juga mampu membangun kebudayaan masyarakat pedesaan. Terus terang, saya datang ke Purwakarta ini juga untuk belajar membangun desa,” ujar Marwan. Dia menambahkan, Purwakarta layak dijadikan role model pembangunan desa di Indonesia. “Kesuksesan membangun desa diperlihatkan dengan tetap menjaga kultur dan didukung infrastrukturnya yang sudah sangat baik. Sehingga cocok dijadikan contoh bagi daerah lain, bukan hanya Jawa Barat tetapi seluruh Indonesia,” katanya.

Mendengar paparan sang menteri, Dedi tak segan mengungkapkan, semenjak menjabat dirinya sudah menjadikan desa sebagai fokus utama pembangunan. “Desa menjadi fokus pembangunan di Purwakarta, bahkan ada lima desa yang kita buka isolasinya melalui pembangunan infrastruktur jalan sepanjang 57 kilometer,” kata Dedi.

Tak hanya itu, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di setiap desa sudah disediakan fasilitas Ambulance on Call. “Sudah kita berikan 100 ambulan, adapun sisanya 92 lagi akan segera kita selesaikan,” ujar Dedi. Bahkan, untuk target pembangunan hingga 2018, Dedi mengatakan, Pemerintah Kabupaten Purwakarta sudah memiliki target pembangunan desa harus setara dengan pembangunan kota. “Kita masih memiliki waktu cukup membuat kesetaraan antara pembangunan desa dan kota, kita juga harus memahami bahwa pembangunan Indonesia ini sejatinya dimulai dari desa,” kata Dedi.

Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Desa 

Untuk mencapai kesetaraan desa dan kota, maka salah satunya dapat diwujudkan dengan pembentukkan sumber daya masayrakat desa yang berkualitas. Dan hal ini hanya bisa tercapai melalui sistem pendidikan yang mumpuni. Terkait konsep pendidikan itu sendiri, Bupati mengedepankan konsep pendidikan berkarakter berbasis kearifan tradisional pedesaan yang sangat aplikatif. Di antaranya anak-anak masuk pukul 06.00 pagi, diajarkan beternak serta bertani, membuat tas sendiri, sehingga membentuk pribadi yang tak konsumtif melainkan produktif.

Konsep pendidikan itu mengubah mindset anak-anak Purwakarta sehingga tidak lagi berpikir menjadi pekerja tapi bisa jadi pengusaha. Untuk men-trigger tumbuh kembang anak-anak dan semakin semangat bersekolah, Bupati juga mengeluarkan kebijakan pemberian susu dan telur dalam seminggu, serta daging setiap bulannya. Tak heran, pendidikan berkarakter berbasis kearifan tradisional pedesaan ini menarik perhatian berbagai pihak, bahkan menarik perhatian dunia. Ini terbukti saat Bupati Purwakarta memenuhi undangan International Young Leader Assembly (IYLA) untuk memaparkan inovasinya di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.

Di depan peserta Forum IYLA, Dedi yang mengenakan baju dan celana pangsi putih khas Sunda lengkap dengan ikat kepala menjelaskan, penguatan tradisional pedesaan melalui sistem pendidikan berkarakter Sunda sebagai basis kekuatan masyarakat. Konsep itu sebagai upaya memperkuat ekonomi berbasis budaya, peternakan, perikanan, pertanian, kehutanan, dan industri kreatif. Pemerintah Kabupaten Purwakarta membangun masyarakat melalui sistem berbasiskan budaya, di mana desa dibangun dengan kekuatan tradisi lokal yang kuat.

Istimewanya, itu merupakan pertama kali seorang bupati mewakili Indonesia berbicara tentang budaya Sunda di forum PBB. Wakil Direktur Eksekutif IYLA Magali Careces menyatakan, pihaknya mengundang Dedi karena tertarik dengan sosoknya dalam memimpin Kabupaten Purwakarta. "Ia memiliki visi yang kuat dalam membangun daerah, terutama dalam visi pembangunan spirit budaya lokal," kata Magali kala itu. Disebutkannya, pihaknya selama beberapa tahun memantau perkembangan kota-kota yang ada di dunia, salah satunya di Indonesia. Purwakarta, menurut dia, mengalami kemajuan pesat dalam pembangunan, terlebih kabupaten ini unik dalam mengangkat budayanya sendiri.

"Kami mengetahui berita mengenai perkembangan Purwakarta dari sekretariat ASEAN di Jakarta, Kedubes AS di Jakarta, dan beberapa NGOs. Sejumlah media di Indonesia juga selalu melaporkan dan menayangkan tentang acara kebudayaan di Purwakarta," katanya. Kesungguhan Dedi dalam menerapkan konsep pendidikan berkarakter diperkuat dengan Peraturan Bupati Nomor 69 Tahun 2015 tentang Pendidikan Berkarakter. Hal ini menjadi ikhtiar Pemkab Purwakarta dalam mewujudkan generasi yang paripurna memiliki sikap cerdas, terampil, cinta tanah air dan daerahnya, mandiri, mampu beradaptasi dengan lingkungannya, berwawasan luas dan berbudi pekerti luhur sehingga dapat mengaplikasikan seluruh nilai pendidikan dalam kehidupan sehari-hari.

Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Membentuk sumberdaya masyarakat desa melalui pendidikan berkarakter akan menggerakkan roda perekonomian. Lalu, perekonomian seperti apa yang ideal bagi masyarakat? Untuk yang satu ini, Dedi memiliki konsep ekonomi kerakyatan. Bahkan konsepnya ini diungkapkannya saat menjadi pembicara pada ASEAN Entrepreneurship Summit 2015 di Hospital Prince Court, Kuala Lumpur, Malaysia, belum lama ini.

Dedi membuka pidato dengan sapaan khas Sunda Sampurasun di hadapan para tamu dari berbagai negara ASEAN. Seperti kebiasaannya, Dedi mengenakan pakaian khasnya pangsi putih dengan iket. Dedi mengenalkan daerah Purwakarta. Dedi menyebut Purwakarta sebagai kabupaten kecil di sebelah tenggara Jakarta. “Purwakarta, sebuah kabupaten kecil yg berjarak 90 km tenggara Jakarta. Kalau anda mau berkunjung ke Purwakarta, butuh 2,5 jam penerbangan dari Kuala Lumpur dan 2 jam perjalanan dari airport kalau anda tak terkena kemacetan,” ujarnya.

Dengan lancar Dedi pun memaparkan idenya mengenai ekonomi kerakyatan yang dibangun dengan basis pedesaan. Menurut Dedi, ekonomi kerakyatan jangan dibangun berbasis urban (kota) karena malah membuat rakyat desa miskin. “Industri jangan dibangun berbasis urban, karena dapat menjadikan pedesaan semakin miskin dan malah berisiko membentuk perkotaan yang juga miskin,” kata Dedi.

Menurutnya, kini yang menjadi persoalan di Indonesia adalah kesenjangan pendapatan antara pedesaan dan kota. Pun halnya dengan infrastruktur yang kondisinya sangat jauh antara desa dan kota. Karena itu, lanjut Dedi, dibutuhkan pembangunan pedesaan yang berkelanjutan sehingga ekonomi pedesaan bisa mandiri. Tak kurang dari 30 menit, Dedi memaparkan idenya membangun desa. Para tamu yang hadir terlihat antusias. Usai pidato, tamu yang berjumlah sekitar 300-an orang memberikan applaus meriah.

Dalam even ini, para pengusaha muda dari berbagai negara ASEAN juga ikut mengamini ide-idenya. Dedi sendiri menjadi satu-satunya bupati yang menjadi pembicara dalam ASEAN Enterpreuneurship Summit tersebut.

Purwakarta sebagai Tujuan Pariwisata Pedesaan

Jalannya roda perekonomian tak melulu mengandalkan sentra industri dan bisnis. Pemerintah Kabupaten Purwakarta pun melirik sektor pariwisata sebagai potensi pemasukan pendapatan asli daerahnya. Istimewanya, untuk urusan wisata, Bupati Dedi Mulyadi tak melulu mengandalkan wisata alam yang dimilikinya, melainkan membangun tujuan wisata baru, khususnya yang berbasis pedesaan. Adalah konsep pembangunan desa wisata yang dikembangkan untuk orientasi wisata secara holistik.

Pujian pun datang dari Duta Besar Jerman untuk Indonesia, George Witschel yang berkunjung ke kantor Bupati Purwakarta, belum lama ini. Perwakilan diplomatik antarnegara tersebut sengaja datang ke kabupaten kecil ini, karena tertarik dengan konsep pembangunan desa wisata. Bersama dua stafnya, George mengutarakan kekagumannya di hadapan Bupati. Menurutnya, konsep wisata desa di Purwakarta sangat baik. "Kami tertarik dengan konsep wisata di Purwakarta," ujar George.

Dia siap mengundang para turis Jerman untuk datang ke Purwakarta. Untuk itu, pihaknya berharap pemerintah daerah bisa juga membangun kampung turis. Supaya turis Jerman bisa datang ke Purwakarta. Sementara itu, Dedi Mulyadi menjelaskan, Purwakarta merupakan sebuah kawasan strategis. Karena antara daerah wisata, industri, dan pertanian memiliki area masing-masing yang tidak tumpang tindih satu sama lain. "Semua kawasan ini sedang mengalami tahap pengembangan. Terlebih kawasan wisatanya," kata Bupati.

Kedatangan duta besar Jerman untuk Indonesia ini pun sekaligus menjadi ajang penawaran kerja sama, salah satunya, kerja sama di bidang pendidikan. Dalam kerja sama itu, ada beberapa poin yang dititikberatkan. Kerja sama yang ditawarkan ini meliputi pendidikan berbasis karakter untuk melahirkan siswa yang kreatif di bidang pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, dan industri kreatif. "Jadi nanti anak-anak di Purwakarta akan mengikuti olimpiade. Siapa yang terpilih akan dikirim ke Jerman untuk mempelajari karakteristik dan pola pendidikan, pertanian, dan peternakan negara tersebut," ucapnya.

Mahkamah Budaya dan Adat

Desa merupakan suatu daerah hukum, otonom, dan bersifat autarki, merupakan negara mini dalam ukuran dan tingkat paling sederhana. Desa memiliki rakyat, kekuasaan sendiri (pemerintahan sederhana), daerah teritorial sendiri, serta kekayaan dan pendapatan tersendiri. Hak dan kewajiban, peraturan tata hidup, batas desa diatur secara adat dan biasanya tidak tertulis.
Terkait hukum, hak dan kewajiban, dan hal lainnya diwujudkannya melalui konsep Desa Budaya yang mengatur pola kehidupan masyarakat desa. Desa Budaya adalah revolusi mental ala Bupati Purwakarta untuk menata kehidupan desa agar lebih baik dan teratur. Kebijakannya sangat aplikatif, di antaranya menginstruksikan kepala desa untuk membuat Peraturan Desa secara otonom. Secara garis besar sistem Desa Budaya di antaranya, mengatur ruang tamu kantor desa mesti didesain rapi dan pembatas desa dengan desa lainnya diberi ciri yaitu ditanamkan pohon. Setiap rumah harus memasang lampu penerang dilengkapi kamar mandi yang dibuat senyaman mungkin.
Desa Budaya juga mengatur perilaku masyarakatnya, yakni larangan membuang sampah sembarangan dengan sanksi bila ada yang melanggar maka Pemkab akan mencabut subsidi pendidikan dan kesehatan. Bahkan, masyarakat desa yang tidak ikut keluarga berencana, akan dicabut subsidinya.

Yang teranyar, sebanyak lima dari 192 desa dan kelurahan yang berada di wilayah Kabupaten Purwakarta menjadi proyek percontohan (pilot project) pembentukan Mahkamah Budaya dan Adat. Dedi mengatakan, konsep Mahkamah Budaya dan Adat ini nantinya akan bersinergi dengan konsep yang digulirkan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) mengenai restoratif justice. “Jadi ke depan, di lima desa yaitu Desa Nagrog, Pusakamulya, Sumurugul, Linggamukti, dan Sukamulya akan ada Polisi Budaya,” ujarnya.

Menurut Dedi, dalam pengembangan Mahkamah Budaya dan Adat di lima desa tersebut, Pemkab Purwakarta menggandeng sejumlah perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi kepolisian STIK. “Ada konsep yang sama antara Pemkab dengan perguruan tinggi tersebut, STIK-PTIK juga, saat ini akan menggulirkan restoratif justice," ucap Dedi. Dia mengatakan, nantinya kelima desa tersebut akan menjadi wilayah yang berbasis adat dan budaya, yang segala sesuatunya diatur adat dan budaya. Termasuk jika ada warga yang melanggar, maka hukumannya harus mengacu kepada adat dan budaya.

“Contohnya ada yang mencuri ayam, nantinya pencuri tersebut tidak lagi diserahkan ke polisi dan tidak dikenakan pasal-pasal dalam KUHP dan KUHAP, tetapi akan ditanya sebab dan musabab mengapa dia mencuri,” ucapnya. Dedi menyatakan, jika pencurian terjadi karena faktor kemiskinan atau untuk memberikan makan anggota keluarga, maka seluruh warga di desa itu akan dikenakan sanksi, karena warga di desa itu tak mampu melindungi si miskin. "Pembentukan Majelis Adat dan Budaya ini untuk menciptakan kedamaian di masyarakat serta mengaplikasikan Pancasila," ucapnya.Tatang Budimansyah

Sumber :  http://www.agrofarm.co.id

Previous Post Next Post