Pesan Pencerahan Dedi Mulyadi Kepada Para Aktivis



Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memberikan nasehat kepada para aktivis-aktivis terutama di organisasi-organisasi semacam PMII, HMI, PMKRI, GMNI, KAMMI, KNPI, NU dan Muhammadiyah harus lebih prihatin dalam urusan penguatan pemikiran akal budi. Sebab menurutnya, modernisasi saat ini mengondisikan manusia menjadi pemalas dan pragmatis.


“Kalau membaca ya harus mendalam. Bukan hanya membaca apa yang diterima di fesbuk atau twitter, tetapi harus gali khasanah yang serius. Berorganisasi bukan sekadar numpang nama sebagai pengurus tetapi tidak punya kreativitas kerja. Dalam hidup kita ditantang untuk menyelesaikan masalah, bukan berkeluh kesah. Setiap problem ada solusi. Leluhur kita yang mampu mengukir prestasi karena mereka membawa solusi. Nabi-nabi dikenang sampai sekarang juga karena prestasinya. Kita harus menjadi kendali zaman, bukan budak daripada zaman,” paparnya.

Kepada para aktivis pergerakan Kang Dedi menekankan, tugas utama adalah membaca dan beramal. Sebab menurutnya Islam menyerukan gerakan membaca sebagai pilar utama. Membaca atau Iqra menurut Kang Dedi tentu bukan hanya membaca literatur, melainkan kemampuan membaca realitas zaman, membaca arah geraknya dan kemudian kita ditugaskan untuk memilah nilai yang positif dan negatif. Dari pola bacaan atau iqra itulah sesungguhnya kita sedang menjadi manusia berbudaya karena menggunakan akal budinya. Budaya dalam pengertian Kang Dedi adalah tiga hal, yaitu 1) Filsafat/pemikiran, 2) Etos/mentalitas, dan 3) Moral/etika.

“Manusia hidup sebagai bagian dari kebudayaan. Sebuah masyarakat atau sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas kebudayaannya. Karena itu untuk mencapai derajat masyarakat berbudaya dalam konteks kehidupan berbangsa kita harus punya landasan kebudayaan yang tepat, tangguh dan bisa dijadikan alat untuk mewujudkan nilai-nilai kebaikan di masyarakat,” terangnya.
Nilai-nilai kebaikan atau dalam istilah kaum republikan bernama virtue itu menurut Kang pria yang akrab dipanggil Kang Dedi ini tidak bisa dicapai dengan sembarangan cara. Banyaknya diklat, training atau panduan yang sifatnya instan itu menurut Kang Dedi tidak akan berguna banyak. Kang Dedi hanya yakin, semua usaha untuk mewujudkan kebaikan dalam ruang kebudayaan Indonesia harus melalui perjuangan yang sungguh-sungguh.

“Sejatinya kita hidup berbangsa dan bernegara itu kan tujuannya untuk mencapai peradaban. Untuk ke arah sana dibutuhkan kerja keras dalam ruang kebudayaan, berpikir keras, membaca bukan hanya buku teks melainkan juga mampu membaca realitas dan menyerapnya sebagai energi untuk transformasi sosial. Pengalaman saya sejak tahun 2003 hingga kini menggarap kerja budaya penuh liku, penuh tantangan, halangan dan ganjalan. Tetapi saya menikmati perjuangan itu karena toh pada akhirnya bisa membuat karakter. Saya bisa membuktikan bahwa kerja keras itu berhasil mewujud di Purwakarta, bukan karena Dedi Mulyadi seorang, tetapi karena kerja keras bersama,” ujarnya rendah hati.-

Sumber :  http://dedimulyadi.co
 

Previous Post Next Post