FmD4FRX3FmXvDZXvGZT3FRFgNBP1w326w3z1NBMhNV5=
items

Kisah Bidan Desa Menembus Adat Baduy


Xdetik.com
Ketekunan Bidan Eros Rosita mampu membuka kesadaran kesehatan masyarakat Baduy. Mereka kini mau menerima pelayanan medis
Jahadi langsung menjatuhkan diri di lantai depan pintu layanan gawat darurat Rumah Sakit Umum Daerah Ajidarmo, Jalan Iko Jatmika 1, Rangkasbitung, Lebak, Banten, begitu turun dari mobil. Istri Jahadi akhirnya bisa dibawa ke rumah sakit dengan selamat.

Namun kesedihannya tak lagi tertampung. Sebab, ia telah melanggar adat Baduy dengan menumpang kendaraan beroda empat ketika membawa istrinya ke rumah sakit itu.

Bidan Eros Rosita tak mempedulikannya. Nyawa istri Jahadi, Canirah, di ujung tanduk. Luka akibat melahirkan rentan mengalami perdarahan. “Satpamnya tanya saya, ‘Ibu Bidan, ini bagaimana? Suaminya pingsan.’ Saya bilang bodo amat. Saya yang penting ibunya,” ujar Bidan Eros Rosita mengisahkan.

Cerita penyelamatan Canirah itu terjadi pada 2012. Bidan Eros dan dua bidan yang membantunya, Yeni dan Yani, mendapati Canirah tengah tergolek di bilik rumah Kampung Cikertawana, Baduy Dalam. Sudah empat hari ia terbaring walau masih bisa diajak bicara.

Luka akibat melahirkan hanya ditutup dengan ampas kelapa. Beberapa binatang kecil terlihat bergeliat ketika tutupan luka itu dibersihkan oleh Bidan Eros. Lukanya harus mendapat perawatan di rumah sakit.

Namun niat membawa Canirah ke rumah sakit itu membuahkan perdebatan. Orang Baduy Dalam tak boleh naik kendaraan bermotor. Mereka ingin Canirah ditandu. Padahal perjalanan ke Rangkasbitung dari daerah tempat tinggal Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, membutuhkan waktu dua jam dengan kendaraan mobil.

Bidan Eros cemas luar biasa. Nyawa Canirah jadi taruhan karena, perdarahan sejam saja, nyawanya melayang. “Saya tidak mau tahu, bagaimana caranya, ini harus naik mobil. Pokoknya harus nurut, geura (cepat)!” kata Bidan Eros.

Jahadi pun turut dalam mobil itu. Pengalaman berkendara itu baru pertama kalinya dialami, itu pun melanggar adat. Itu sebabnya, ia sampai jatuh pingsan karena merasa berdosa.

Canirah akhirnya bisa diselamatkan di rumah sakit. Namun suami-istri ini harus tetap menanggung sanksi adat berupa larangan masuk kampung Baduy Dalam selama 40 hari.

Kisah itu mengalir dari mulut Bidan Eros ketika kami bertandang ke rumahnya di Ciboleger, Leuwidamar, Lebak, Banten, pada Jumat, 10 Mei 2017. Pengalaman memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Baduy itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.

Bidan Eros mulai menjalani profesi sebagai tenaga kesehatan untuk Baduy pada 1997. Awalnya ia enggan menjalaninya. Maklum saja, kondisi Baduy benar-benar terpencil. Ia punya cita-cita melanjutkan sekolah. Namun, karena desakan berbagai pihak, akhirnya pengabdian menjadi bidan desa di Baduy itu dilakoninya.
Poliklinik desa dan sebuah rumah sudah disediakan pemerintah di Kampung Kaduketuk, Kanekes, menyatu dengan lingkungan Baduy. Rumah ini didesain sama dengan rumah Baduy, yang berbentuk panggung dan berbahan kayu. Di situlah Bidan Eros tinggal dan memberikan pelayanan kesehatan sendiri.

Perjuangannya agar diterima oleh warga Baduy tak mudah. Kampung yang ia kunjungi adalah Kampung Kaduketuk, yang berjarak tempuh sekitar 1,5 jam jalan kaki. Dulu jalan yang tersedia hanya setapak, tak ada jalan beraspal walaupun untuk menuju Terminal Ciboleger. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan kaki selama 5-8 jam menyisir kampung Baduy.

Kedatangannya juga tak mendapat sambutan baik. Ketika ia menampakkan muka dan memperkenalkan diri, tak seorang pun mau menemuinya. Warga suku Baduy malah bubar ketika ia duduk di tempat biasa ibu-ibu berkumpul. “Kalau ada banyak ibu-ibu lihat saya, mereka teriak, eh bidan... bidan…, sien (ngeri),” ujarnya.

Bahkan salah satu pangiwa, tokoh kampung Baduy yang menjadi ketua RT, pernah mengacung-acungkan golok kepadanya saat melayani penimbangan bayi di Polindes. Ia ingat, nama kokolotan itu adalah Sangara. Kini Sangara sudah meninggal.

Jerih payahnya mulai membuahkan keterbukaan setelah dua tahun terus melakukan pendekatan. Bidan Eros tahu, ia harus mendekati kokolotan masing-masing kampung untuk mendapatkan perhatian warga.

Langkahnya berhasil. Satu per satu kampung mulai menerima layanan kesehatan yang diberikannya. Tetapi terkadang tindakan medis yang mesti dia ambil berbenturan dengan sejumlah aturan adat. Bidan Eros pun mampu bernegosiasi dengan pejabat adat.

Sekitar tahun 2005, misalnya, seorang ibu di Kampung Kaduketuk bernama Kemeli mengandung bayi kembar dan ketubannya pecah. Ia harus dibawa ke rumah sakit. Namun saat itu bertepatan dengan acara ngalaksa atau bersih kampung.

Keinginan membawa pergi Kemeli dari kampung harus ditunda sehari, padahal ketubannya sudah pecah. Bidan Eros pun menjelaskan, jika tak dibawa saat itu juga, tiga nyawa tak tertolong. Peringatan ini pun dipercaya oleh pangiwa setempat.

Di rumah sakit, ujar Bidan Eros, persalinan Kemeli dilakukan dengan cara caesar. Menurutnya, inilah operasi medis pertama yang dijalani warga Baduy.

Tak hanya itu, saat penyakit pneumonia, penyakit gangguan pernapasan, merebak di Baduy Dalam, bantuan berupa infus juga harus berhadapan dengan keputusan adat. Layanan kesehatan di Baduy Dalam masih dilakukan di leuit (lumbung). Enam balita harus diinfus. Penyakit pneumonia memang sering kali menyerang anak-anak. Penyakit ini akibat asap tungku yang berdekatan dengan tempat tidur mereka.

Keputusan adat tidak memperbolehkan penanganan ini. Awalnya mereka hanya diizinkan pindah perawatan di dalam rumah. Namun Bidan Eros mendesak agar diperbolehkan infus. Hasilnya enam anak tersebut akhirnya bisa dirawat dan kondisinya membaik walau menghabiskan dua infus untuk tiap anak.

Bidan Eros pun memuluskan jalan layanan kesehatan modern di Baduy. Aturan adat dan sikap adat Baduy kemudian justru memperbolehkan layanan kesehatan. Sejak 2011, ia mendapat bantuan bidan lain. Kini terdapat tiga bidan yang melakukan pelayanan.

Suami Bidan Eros, Asep Kurnia, mengaku tak dapat menahan sedihnya tiap kali mengingat ketekunan istrinya memberikan pelayanan kesehatan kepada warga Baduy. Asep sering menemani istrinya itu sambil membawa anak tanpa mempedulikan cuaca. Bahkan gelapnya malam mereka tembus jika harus melakukan tindakan darurat.

Tiga anak mereka pun mereka ajari memahami Baduy. Ketiganya sudah mengecap jalur setapak menuju kampung-kampung Baduy sejak belia. “Kalau boleh saya bilang, pantat ini pun kami pakai untuk berjalan. Lihat saja jalanan setapak berlumpur, jalan malam-malam, dan senter mati. Kami harus ngelesot,” ungkapnya.

Namun bergelut dengan Baduy menyadarkan Asep atas aturan adat. Aturan-aturan tersebut selalu berkembang sesuai dengan pengetahuan dan kebutuhan. Dulu layanan kesehatan modern dilarang, kini mereka sudah terbuka. Istrinya pun kini membuka praktek di rumah yang ditinggali. Warga Baduy masih mempercayakan layanan kesehatan padanya.

Tulisan ini dikutip ulang di laman asepjazuli.blogspot.com untuk kepentingan sosial dan pembelajaran***

0/Post a Comment/Comments

73745675015091643