PEMBERDAYAAN SEJATI / AGENT OF CHANGE

Oleh: Herman
( Penulis adalah Koordinator LKM Jeruk Manis Desa Air Limau, 
Kecamatan Muntok Kab. Bangka Barat )



Saat ini, pemberdayaan terhadap diri sendiri dalam pembangunan berkelanjutan di suatu daerah atau negara, begitu lemahnya. Padahal, pemberdayaan diri bagi masyarakat Indonesia sangat penting untuk dapat bersaing membangun peradaban, mengatasi persoalan kemiskinan hingga kepada hal-hal yang berkaitan dengan perjuangan jati diri bangsa.

Dalam tulisan ini, penulis ingin sekali menerangkan begitu pentingnya pemberdayaan diri sehingga menjadi Pemberdayaan Sejati atau Agent of Change dalam berkehidupan. Untuk menjelaskan itu, ada baiknya diketahui lebih dulu apa itu pemberdayaan diri.
Pemberdayaan sesungguhnya dapat diartikan sebagai suatu upaya memulihkan atau meningkatkan keberdayaan untuk mampu berbuat sesuai dengan harkat dan martabat dalam melaksanakan hak-hak dan tanggung jawab baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok komunitas/masyarakat. Dimulai dari diri sendiri membangun karakteristik pribadi/merubah paradigma merupakan salah satu kunci pokok sebelum kita merubah orang lain/masyarakat/komunitas yang akan kita temui. Sehingga benar-benar mencerminkan sosok agent perubahan nantinya
Yang menjadi pertanyaannya adalah pemberdayaan siapa? Apakah pembangunan dan untuk siapa? Apakah sifat-sifat dari obyek pemberdayaan menentukan strategi kita untuk mengatasi persoalan kemiskinan yang ada di daerah kita?
Untuk menjawab itu, kita harus mengetahui bahwa fakta menunjukkan orang miskin makin banyak, kerusakan lingkungan makin parah, kualitas kriminalitas meningkat, tingkat stress meningkat dan semakin nyata ketidakberdayaan manusia (bangsa, suku, keluarga, individu, dsb) dalam kehidupan sekarang ini. Ditambah lagi semakin meningkatnya ketimpangan sosial di semua tataran (komunitas, kota, negara, benua dan dunia).
Akan tetapi fakta pengalaman, suatu program berhasil didorong oleh komitmen beberapa orang pelaku inti, bukan semata-mata oleh sebab kecanggihan teknologi. Bahkan sebaliknya, terjadi pelembagaan nilai-nilai universal “kemanusiaan” dan adanya kepedulian yang tinggi, yang disadari adanya tujuan yang lebih besar/tinggi— common (universal) interest. Jika mengadaptasi tulisan Kisdarto Atmosoeprapto yakni “temukan kembali jati diri anda dalam proses pemberdayaan,” hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh masyarakat menurut penulis adalah mengenal jati diri. Apalagi jati diri suatu bangsa dicerminkan oleh jati diri masyarakat dan individu-individu warganya. Jati diri inilah yang akan memberdayakan diri kita dan pada akhirnya diharapkan akan memberdayakan masyarakat sehingga mampu mengatasi segala gejolak maupun krisis yang melanda dirinya.
Sebenarnya setiap manusia pada saat dilahirkan membawa atau ‘dibekali’ karakteristik bawaan yang mulia (human endowment) sebagai Karunia Tuhan. Namun dalam perjalanan hidup, watak seseorang yang terbentuk bisa berbeda dari watak bawaannya, atau bahkan bertentangan. Karena itu penting diketahui bahwam enemukan jati diri berarti menyadari, menghayati dan memahami untuk apa kita dilahirkan, apa makna dari kelahiran dan hidup kita selanjutnya bagi kehidupan dan makna kehidupan itu sendiri bagi diri kita.
Apabila kita menyadari makna diri kita bagi kehidupan, kita akan tetap menjaga dan memelihara potensi dan karakteristik bawaan kita serta mengembangkannya untuk memperbaiki terus menerus kualitas hidup dan kehidupan. Kesadaran ini akan menjadi dorongan yang kuat bagi diri kita untuk mengejar dan mewujudkan cita-cita dan memaknai kehidupan kita sesuai dengan kebutuhan dasar (kebutuhan yang paling tinggi nilainya) yaitu self transendence.
Kebutuhan tertinggi itu merupakan keseimbangan antara ‘selfish’ dan ‘selfless’. Selfish mengandung arti ‘aku yang teguh’ sedangkan selfless mengandung arti pengorbanan untuk sesama.
Dan kenyataannya apabila orang menyadari makna dirinya dalam kehidupan dan makna kehidupan bagi dirinya, segala perbuatan dalam hidupnya merupakan buah dari sikap mental positifnya yang bersumber dari kesadaran menemukan “jati diri”-nya. Kesadaran bahwa ia dilahirkan dengan bekal potensi dan karakteristik bawaan dan keberadaannya di dunia pun, diharapkan bisa berperan–betapapun kecilnya dalam memperbaiki kualitas kehidupan yang dikehendaki oleh Sang Pencipta.
Seperti kita ketahui, yang ditinggalkan manusia di dunia pada hakekatnya hanyalah amal perbuatannya. Manusia akan dikenang apabila dalam hidupnya bermanfaat atau mempunyai nilai bagi sesama. Oleh karena itu yang paling penting adalah apa yang diperbuat seseorang dalam hidupnya. Seperti kata pepatah “Lebih baik menjadi orang yang tidak dikenal namanya tetapi berbuat sesuatu yang bermanfaat, daripada orang yang dikenal namanya akan tetapi tidak berbuat apapun”.
Dengan begitu dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap perbuatan berawal dari pikiran, maka apa yang dipikirkan seseorang sebelum mewujudkannya dalam perbuatan, mempunyai peranan yang menentukan nilai dari hasil perbuatannya. Apabila pikiran yang berkembang bisa ‘mendengarkan’ bisikan nurani, berarti mampu menangkap maksud dan tujuan kehidupan ini diciptakan. Maka pikiran itu akan memperoleh daya (power) luar biasa sehingga perbuatan yang diwujudkannyapun mempunyai nilai yang besar.
Kitapun sebenarnya perlu menyadari atau menemukan kembali jati diri kita sendiri sebagai manusia—makhluk yang diciptakan lebih unggul dari segala makhluk ciptaan Tuhan. Dengan segala karakteristik dan potensi bawaan sejak lahir yang bisa dikembangkan untuk mencapai kemanfaatan yang lebih besar bagi diri kita sendiri dan bagi kehidupan secara keseluruhan agar selalu mengarah pada maksud, tujuan dan kehendak Sang Pencipta.
Bila kita mempunyai pendirian yang teguh dan keyakinan pada kebenaran yang selalu kita kejar, rintangan apa pun harus berani kita hadapi. Bila diri kita berdaya, tidak seorang pun bisa memberdayakan kita, bahkan kita bisa memberdayakan orang lain. Untuk menemukan jati diri kita itulah, kenalilah terlebih dahulu diri kita; siapa sebenarnya kita. Hal tersebut bisa dilakukan cukup dengan perenungan pada perjalanan hidup yang sudah dilalui, kapan saja setiap saat, mawas diri pada apa yang selama ini telah kita peroleh dan telah kita amalkan dalam hidup kita.
Mengenali, menemukan dan menyadari jati diri kita akan lebih memberdayakan diri kita sehingga menjadi semakin kuat untuk menghadapi dan mengatasi segala rintangan atau hambatan dalam hidup guna mewujudkan cita-cita kita, visi kita menuju kesuksesan dalam hidup. Sehingga membuat kualitas hidup kita menjadi lebih baik dan berpeluang memperbaiki kualitas kehidupan bagi sesama.
Bukankah itu yang menjadi tujuan dan kehendak Sang Pencipta? Untuk itu pulalah kita dilahirkan sama, dibekali karakteristik dan potensi yang sama pula. Namun perlu diketahui Hakekat Pemberdayaan Sejati (Paradigma Kemanusiaan) yang dikenal pemberdayaan nilai-nilai kemanusiaan, sistemnya dibangun untuk memberikan kesempatan memberdayakan sifat “MEMBERI. Karena pada dasarnya manusia adalah ibarat tambang yang penuh kebajikan.
Meyakini bahwa terdapat banyak tambang-tambang nilai kebajikan di dalam masyarakat yang harus digali, karenanya Pemberdayaan Sejati adalah menggali dan memberdayakan nilai-nilai yang sudah ada. Membuka lebih banyak kesempatan untuk memberi (konsep pengorbanan = kesempatan untuk mendapatkan nilai kemanusiaan yang lebih tinggi/aktualisasi diri sesuai fitrahnya), membantu orang miskin melalui para relawan, dsb adalah wujud kesempatan untuk memberi. Serta menemukan dan memberdayakan orang-orang peduli sehingga mampu menerapkan nilai-nilai luhur dan mampu melakukan perbuatan baik, murni serta terpuji (membangun kebajikan di tengah masyarakat).
Sementara tujuan akhir dari pemberdayaan adalah pulihnya nilai-nilai manusia sesuai harkat dan martabatnya sebagai pribadi yang unik, merdeka dan mandiri. Unik dalam konteks kemajemukan manusia merdeka dari segala belenggu internal maupun eksternal termasuk belenggu keduniawian dan kemiskinan. Selain itu mandiri untuk mampu menjadi programer bagi dirinya dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan sesama.
Inilah konsep yang seharusnya dimiliki oleh seorang agent pemberdayaan sejati sehingga mampu berbuat lebih banyak dihadapan NYA dengan mengorbankan waktu bersama orang-orang terkasih untuk berbuat lebih kepada masyarakat, tanpa harus menghitung akhir berapa yang sudah diperbuatnya. Walau terasa sangat berat menghadapi paradigma/pola pikir masyarakat yang heterogen, tetapi mengharap balasan kebaikan dari Ilahi dihari akhirnya merupakan nilai spiritual dalam mendapatkan balasan Sang Khalik. Semoga saja ini menjadi sentuhan bagi seluruh agent perubahan baik pemerintah, swasta dan masyarakat serta pelaku program nantinya untuk berbuat lebih baik lagi kepada masyarakatnya... Aamiin!

Sumber : Share Fasilitator Page - SFP

Previous Post Next Post