Haji Wukuf di Arafah, Kesabaran dan Pengorbanan

Oleh : Musni Umar
Sociologist and Researcher, Ph.D in Sociology, National University of Malaysia (UKM)



Prosesi ibadah haji di Arafah

Hari ini tarikh 9 Zulhijjjah 1436 H bertepatan 23 September 2015, seluruh jamaah haji dari penjuru dunia yang melaksanakan haji telah berkumpul di padang Arafah, sebelah timur Saudi Arabia.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Alhajju bi arafah” (Haji adalah di Arafah). Maka dapat dikatakan tidak ada haji tanpa wukuf di Arafah. Para ulama sepakat bahwa berdasarkan ucapan Nabi Muhammad SAW tersebut, maka seseorang dikatakan sudah haji, jika telah melaksanakan segala rukun haji dan wukuf di Arafah.
Pertanyaannya, mengapa wukuf di Arafah begitu penting dan merupakan syarat mutlak keabsahan haji? Setidaknya ada 3 (tiga) hikmah yang bisa dikemukakan.
Pertama, haji merupakan napak tilas – mengikuti jejak Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad SAW. Dipadang Arafah, Nabi Muhammad SAW melakukan wukuf dan mengucapkankhutbatul wada’ (pidato perpisahan) yang kemudian disebutkan dalam Alqur’an di surat Al-Maidah ayat 3 yang berbunyi “Alyauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu alaikum ni’maty wa radhiitu lakumul Islaama diina” (Pada hari ini Aku (Allah) sempurnakan Agama (Islam) bagi kamu dan Aku (Allah) cukupkan nikmat bagi kamu dan Aku rela (ridha) Islam menjadi agama kamu”.
Kedua, padang Arafah merupakan simbolisasi padang Mahsyar. Setelah dunia kiamat, seluruh umat manusia sudah mati, mereka akan dibangkitkan dan dihidupkan kembali. Seluruh umat manusia akan berkumpul di padang Mahsyar untuk menanti pengadilan Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Dihadapan Tuhan, mereka akan mempertanggungjawabkan segala amal kebaikan dan keburukan selama hidup di dunia. Jika timbangan amalnya baik, maka akan masuk Syurga, jika sebaliknya, maka akan masuk Neraka.
Ketiga, untuk merespon panggilan Allah kepada setiap Muslim yang memiliki kemampuan ekonomi dan fisik, untuk melaksanakan Ibadah haji. Sesuai firman Allah “Wa azzin finnaasi bilhajji ya’tuuka rijaalan wa ‘ala kulli dhaamirin ya’tiina min kulli fajjin amiiq” (Dan Permaklumlah kepada manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang dengan berjalan kaki dan mengendarai segala macam kendaraan dari segala penjuru). Puncak haji adalah di Arafah sesuai Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Kerelaan Berkorban
Haji yang puncaknya di Arafah adalah ibadah yang memerlukan kesabaran yang tinggi dan kerelaan berkorban. Walaupun memiliki kemampuan ekonomi dan kesiapan fisik, jika tidak rela berkorban, maka tidak akan mau melakukan ibadah haji.
Setidaknya ada 5 (lima) alasan perlunya sabar dan berkorban. Pertama, ibadah haji yang dilakukan pada waktu yang bersamaan oleh jutaan manusia, tidak mudah melayaninya. Maka setiap jamaah harus rela berkorban dengan berdesak-desak dan menyabung nyawa, selama melaksanakan ibadah haji.
Kedua, fasilitas hotel (penginapan) dan makanan, tidak mungkin bisa memenuhi selera setiap jamaah haji yang datang dari berbagai negara, maka harus sabar dan rela berkorban – melepas kesenangan demi ibadah kepada Allah.
Ketiga, transportasi selama haji, tidak mudah memenuhi kenyamanan seluruh jamaah karena jutaan orang yang harus dilayani, sehingga pasti ada kekurangan yang tidak membuat nyaman bagi jamaah haji. Maka tidak ada pilihan, harus sabar dan rela berkorban.
Keempat, wukuf di Arafah yang diikuti jutaan manusia ditengah sengatan mata hari yang luar biasa, memerlukan kesabaran yang luar biasa, ketulusan dan pengorbanan yang besar.
Kelima, jumrah di Mina. Setelah wukuf di Arafah, harus menuju Mina untuk melaksanakan jumrah. Dalam perjalanan sungguh-sungguh memerlukan energy yang besar, kesabaran dan pengorbanan, karena lautan manusia menuju pada titik yang sama, yaitu Mina.
Maka, wukuf di Arafah sebagai puncak dari ibadah haji dan berbagai prosesi ibadah lainnya, amat memerlukan kesabaran, ketabahan dan pengorbanan. Kalau itu dilakukan, maka insya Allah haji mabrur akan diraih, yang balasannya adalah syurga.

Allahu a’lam bisshawab

Sumber : Kompassiana.com
Previous Post Next Post