Siskeudes, Si "Dungu" yang Ingin Membantu: Sebuah Tanggapan

Perkembangan teknologi begitu cepat dan mau tidak mau harus direspon dengan cepat pula. Opsinya hanyalah mau berkembang atau semakin tertinggal di belakang. Termasuk dalam tata kelola keuangan desa. Pemerintah dalam hal ini menggalakkan penggunaan sebuah aplikasi sederhana bernama Siskeudes utk membantu keuangan desa agar lebih praktis namun tidak melupakan sisi transparansi dan akuntabilitasnya. Dikatakan sederhana karena Siskeudes dikembangkan melalui penyesuaian kondisi desa, kuantitas dan kualitas SDMnya, dengan capaian yang hendak dituju oleh Pemerintah. 


Mengapa penatausahaan keuangan desa perlu melalui sebuah sistem aplikasi yang terstandar? Karena perkembangan zaman menuntut penyelesaian segala urusan lebih cepat, tepat, dan efektif. Selain itu, dengan aplikasi sederhana, masyarakat dituntut untuk bisa melaksanakan sendiri penyelenggaraan keuangannya melalui praktik langsung (learning by doing). Dengan cara ini, transfer of knowledge dari Pemerintah kepada masyarakat dapat lebih efektif. Terkait Siskeudes dan aplikasinya, beberapa hal yang perlu diketahui antara lain:
Siskeudes jangan dilihat sebagai paksaan, melainkan harus dilihat sebagai upaya Pemerintah membantu masyarakatnya bisa mandiri dalam mengurus sendiri keuangannya. Mengapa perlu menggunakan Siskeudes? Hal ini terkait dengan standarisasi produk laporan yang dihasilkan agar seragam di semua desa di Indonesia. Sehingga nantinya secara makro, laporan keuangan desa dapat dikonsolidasikan secara nasional bahkan sampai ke LKPD maupun LKPP. Dengan demikian, ke depannya setiap angka yang ada di dalam anggaran pemerintah pusat dapat "dilacak" sampai ke tingkat desa. Alasan lain perlu memakai Siskeudes yaitu karena Siskeudes dibuat oleh Pemerintah yang notabene sebagai pembuat kebijakan pengelolaan keuangannya, sehingga otomatis pastilah aplikasi ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, aplikasi ini diberikan secara gratis kepada desa, sehingga lebih ekonomis dan efisien bagi desa. Jika sesuatu yang dibayar namun belum dijamin Pemerintah saja kita mau mencoba, kenapa harus menolak yang gratis dan terjamin?
Seperti disebutkan di atas, aplikasi ini dikembangkan dengan menyesuaikan kondisi desa, termasuk infrastruktur jaringan internet yang masih terbatas di beberapa daerah. Karena itu, Siskeudes sebagai desktop application dapat dijalankan secara offline dengan mekanisme ekspor/impor data. Perlahan, sesuai perkembangan dan kebutuhan desa masing-masing, Siskeudes dapat dipakai secara daring/jaringan. Offline mode menjadi online mode. Luar biasa memudahkan bukan.
Siskeudes mengurangi secara drastis tingkat keruwetan penyusunan laporan keuangan desa dan mengembalikan hakikat keuangan desa untuk membangun desa. Dengan penyusunan laporan keuangan yang praktis dan terotomatisasi, laporan keuangan desa yang dihasilkan akan lebih transparan dan akuntabel karena Siskeudes juga merekam/mencetak sampai ke bukti pengeluaran. Dengan demikian, pikiran dan tenaga aparatur desa dapat dicurahkan sepenuhnya untuk memikirkan strategi membangun desa dan masyarakatnya, tidak lagi terkuras dan terpaku pada penyusunan laporan keuangan semata. Inilah hakikat utamanya.
Siskeudes telah built in SPI, sehingga tindakan manipulasi ataupun upaya membuat pertanggungjawaban yg tidak otentik dapat ditekan dan diminimalisir.
Kodifikasi dalam Siskeudes antara desa satu dan lainnya berbeda karena menyesuaikan dengan mata anggaran desa masing-masing. Desa yang ingin memakai Siskeudes tidak mengajukan sendiri, namun melalui pemda setempat, sehingga kodifikasi desa terstandar sesuai daerah masing-masing.
Dari hal-hal di atas dapat dilihat bahwa Siskeudes mengembalikan hakikat pengelolaan keuangan desa, yaitu untuk membangun desa, bukan sekedar menyusun laporan semata. "Tidak sempurna", ya, karena mungkin aplikasi ini masih ada kekurangan di sana-sini. Kesulitan di masa pembelajaran itu wajar, sama seperti proses belajar mengajar di sekolah. Namun manfaat dari pembelajaran ini kelak akan dirasakan oleh bukan hanya desa selaku pengguna, namun oleh bangsa seutuhnya dan diharapkan di masa depan desa tidak lagi dianggap kaum marjinal. Di sinilah peran kita semua untuk membantu penyempurnaannya dengan saran dan kritik membangun yang tidak didasarkan pada kepentingan segelintir pihak. "Dungu?!" Mungkin terlalu berlebihan jika dianggap demikian. Isu dehumanisasi melalui pengaplikasian Siskeudes tidaklah tepat apabila kita melihat bahwa fungsi "memanusiakan manusia" di Siskeudes ini adalah bagaimana membangun desa dan masyarakatnya agar lebih maju dan terdidik. Kemudahan dalam penyusunan administrasi yang dihasilkan melalui Siskeudes hanyalah sebagai alat teknis dalam mencapai tujuan "manusia" tadi, sama seperti kita bekerja dengan dibantu perangkat komputer. Kita tidak pernah menganggap dungu email ataupun aplikasi chatting yang menggeser dunia persuratan. Kita juga tidak pernah menganggap dungu belanja online ketika marketnya tumbuh melebihi belanja tatap muka. Namun sejatinya, jika sesuatu hal mendukung pencapaian tujuan secara benar, cepat, tepat..., kenapa tidak kita dukung. Jangan-jangan kita yang tidak ingin maju dan membiarkan diri tenggelam dalam ke"dungu"an.

Karneji Sormin
Sumber  :

https://www.kompasiana.com/karnejisormin/59e5579f147f967bf10a1ed2/siskeudes-si-dungu-yang-ingin-membantu-sebuah-tanggapan

Tulisan ini disalin ulang untuk kepentingan Pengetahuan, Pembelajaran, dan Pendampingan Desa.

Admin***


Post a Comment

Sampaikan Komentar Anda Disini....

Previous Post Next Post