Menjadi Seorang Pendamping, Bukanlah sebuah Kebanggaan


( Sebuah Otokritik dan Intropeksi Diri )


Teringat ketika mengikuti sebuah lomba yang di ikuti oleh PLD tingkat Jawa Barat, saya pernah melontarkan sebuah pernyataan bahwa " menjadi seorang pendamping bukanlah sebuah kebanggaan melainkan sebuah dedikasi", ya !!! sejatinya menjadi Pendamping Desa, Pendamping Lokal Desa, dan Pendamping Desa Teknik Infrastruktur bagi saya itu bukanlah menjadi sebuah kebanggaan, melainkan sebuah DEDIKASI yang harus dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan. Dilaksanakan dalam artian, melaksanakan tupoksi sebagai pendamping dalam koridor aturan/sop tentang Pendampingan Desa, dengan penuh rasa tanggungjawab, kesadaran, dan Inovatif.


Keberadaan Pendamping dengan segala bentuk kelebihan dan kekurangannya diluar SOP Pendampingan juga harus mampu memposisikan diri atau berperan menjadi, seorang :

1.    Konsultan, dalam hal ini pendamping harus mampu menjadikan dirinya tempat bertanya, menampung permasalahan atau kendala-kendala yang dihadapi para fungsionaris kelompok masyarakat dan memberika alternatif pemecahan masalah dengan tetap ada ditangan kelompok masyarakat sendiri.

2. Fasilitator, Sebagai seorang fasilitator, pendamping harus mampu memfasilitasi terjadinya proses dinamis dalam pengembangan masyarakat menuju pada perubahan yang lebih baik. Dalam perannya inilah seorang pendamping sering disebut sebagai process provider. Sebagai process provider seorang pendamping harus mampu memberikan motivasi (motivator) kepada kelompok masyarakat yang putus asa, pasrah, nrimo, bahkan pesimis dan apatis supaya menjadi lebih bersemangat dan berpengharapan untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Ada kalanya kelompok masyarakat mengalami stagnasi dan pasif, untuk itu pendamping harus mampu mendinamisasi (dinamisator) supaya proses transformasi dan pemberdayaan terjadi secara berdaya guna sehingga mencapai tujuan yang diharapkan. Pendamping juga harus mampu memfasilitasi kebutuhan kelompok dalam hubungannya dengan pihak luar. Baik dalam hal menemukan akses sumberdaya, pasar, maupun dalam mempromosikan kelompok agar mendapatkan pengakuan dari pihak luar. Dalam hal ini peran melakukan mediasi atau sebagai mediator (bridging) terjadi.


3.  Pelatih, dalam kaitannya dengan upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta terjadinya perubahan sikap dalam diri para fungsionaris maupun anggota kelompok, maka seorang pendamping juga harus mampu menjadi pelatih bagi kelompok masyarakat.




  

Ketiga peran tersebut diatas sebenarnya bukan peran yang berdiri sendiri-sendiri tetapi merupakan satu kesatuan, dimana satu dengan yang lain akan saling berkaitan dan mendukung.  Dan untuk mendukung ketiga peran tersebut diatas, seorang pendamping dituntut memiliki beberapa keterampilan pokok, diantaranya ;
1)   Kemampuan berkomunikasi,atau menyampaikan pokok-pokok pikiran, Hal ini ditekankan guna menjaga hubungan yang sejajar antara pendamping dengan desa yang didampinginya.

2)   Beradaptasi (penyesuaian diri)Kemampuan beradaptasi ini hendaknya dilihat bukan hanya secara sepihak dalam arti pendamping harus mampu menyesuaikan diri dengan gaya hidup, adat atau kebiasaan masyarakat. Tetapi juga kemampuan untuk mengajak masyarakat menerima hal-hal baru diluar gaya hidup atau kebiasaan mereka selama ini. Kesalahan selama ini pendamping yang selalu bisa beradaptsi tehadap masyarakat, tetapi apalah artinya pendamping yang bisa melakukan penyesuaian diri tetapi gagal membawa kelompok masyarakatnya menyesuaikan terhadap perubahan yang dihadapi.

3)    Studi dan Analisis Sosial,seorang pendamping harus dapat memahami dinamika dan realita sosial yang dihadapi masyarakat. Disisi lain tujuan pendmpingan adalah kemadirian kelompok masyarakat dengan pendekatan dan peningkatan partisipasi masyarakat. Oleh karena itu maka seorang pendmping dituntut untuk selalu mengasah kemampuannya dalam melihat dan menganalisis kondisi sosial akurat dan tepat seperti kemiskinan, ketergantungan dan keterkaitan proses sosial baik pada tingkat mikro maupun makro.

4)    Belajar secara terus menerus, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah bagi pendamping untuk dapat belajar terus menerus meng upgrade diri, butuh kesadaran dan kemamuan untuk melaksanakannya. Dalih keterbatasan dana, transportasi dan sumber belajar akan menjadi alasan yang sah padahal kemampuan seorang pendamping tidak akan cukup bila hanya mendasarkan pada pelatihan Pratugas dan Pelatihan Penyegaran, sebagai bekal untuk menjadi seorang pendaming. Bila menyadari bahwa yang didampingi pun mengalami perubahan dan perkmbangan, jelas banyak kemapuan pendamping bila tidak dikembangkan tidak akan mampu mengikuti perkembangan malah akan tergerus yang akan menjadikan pendamping minder. Sumber belajar bagi pendamping hendaknya dilihat bukan hanya sebatas pelatihan dan buku, tetapi interaksi dengan berbagai pihak manapun ( Disikusi ) akan dapat dijadikan sumber belajar yang efektif.

5) Menghapuskan diri, kemampuan menghapuskan diri mnjadi yang paling menantang bagi seorang pendamping bukan karena sulit untuk dilakukan, tetapi lebih karena adanya hambatan psikologis. Seorang pendamping dengan bangganya akan menceritakan bagaimana yang didampinginya menangis dan merasa kehilangan ketika ia mengakhiri tugasnya sebagi pendamping. “ Kalau Bapak pergi siapa lagi yang akan mendampingi kami ? “  Padahal keberhasilan dalam proses pendampingan ialah ketika  yang didampingi telah MANDIRI dan mempunyai pendamping yang berasal dari mereka sendiri untuk melakukan proses pendmpingan selanjutnya.  MANDIRI disini  Bukan untuk justifikasi atau menjadikan Alasan bagi Seorang Pendamping untuk tidak melaksanakan tugasnya, melainkan selama dia menjadi Pendamping dan selama dia dibayar oleh negara Wajib Hukumnya melaksanakan tugas-tugas pendampingan sebagaimana yang telah diatur oleh SOP dan menjalankan ketiga peran sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Jika ada oknum Pendamping yang tidak melaksanakan tugas-tugas pendampingan dengan dalih membiarkan yang didampinginya  supaya MANDIRI  tanpa diberikan dulu rangsangan, pelatihan, dan bentuk pendampingan laiinya, saya kira oknum pendamping seperti itu layak untuk di evaluasi secara mendalam dan lapindu nya patut utuk dipertanyakan serta di cek kelapangan secara obyektif dan faktual.  

6)   Kemampuan Menyajikan Data,  Menurut Wahyudin Kessa,  Data sangat penting bagi seorang pendamping. Tanpa data dan informasi yang lengkap pendamping tidak akan bisa bekerja maksimal. “DATA” adalah perlengkapan kerja utama bagi seorang pendamping. Untuk itu, Pendamping harus memiliki berbagai Data terkait dengan Desa yang didampinginya mulai dari Data Perencanaan hingga Pertanggungjawaban Desa, Profil Desa, Kelembagaan Desa, dll yang berhubungan dengan desa. Jadi, jika ada oknum Pendamping yang mengeluh ketika dimintai data-data, berarti mereka tidak memegang data itu.  Mereka pasti tidak menguasai daerah dampingannya. Ini artinya mereka “tidak bekerja”, karena perlengkapan kerjanya tidak ada, yakni “D A T A”. Dan saya kira untuk menyajikan sebuah DATA bukanlah perkara hal yang sulit, jika kita bekerja, mendampingi, memfasilitasi, dan menguasai bagaimana caranya membuat sebuah Administrasi Data.

Mungkin itulah sebuah coretan tangan saya selaku Pendamping Lokal Desa di Kabupaten Sumedang, sebagai sebuah introkpeksi dan otokritik bagi diri saya sendiri, untuk perbaikan dan peningkatan kinerja sebagai seorang pendamping,
 “ Karena Menjadi Seorang Pendamping Bukanlah sebuah Kebanggan, Melainkan Sebuah Dedikasi “ dan tulisan tersebut diatas tidak bermasud menyingung siapa pun hanya tukar pikiran saja, karena saya berprinsip sebelum di evaluasi oleh orang lain, maka evaluasi lah oleh diri sendiri.

Oleh : Asep Jazuli

“ Menjadi Pendamping itu Berat, Ringankan dan Sederhanakan Saja dengan  
 Laa ilaaha illallah ”



Post a Comment

Sampaikan Komentar Anda Disini....

Previous Post Next Post