Sejarah Singkat Sumedang




2.1. Asal-usul Kata Sumedang
 Suryaman N, dkk (1996) mengungkapkan bahwa, asal kata “Sumedang”  berawal dari legenda rakyat Sumedang, yakni berasal dari ucapan Prabu Tadjimalela  pada saat  terjadi keajaiban alam di sekitar kerajaan Tembong Agung.  Menurut legenda tersebut saat itu langit menjadi terang benderang oleh sebuah cahaya yang melengkung menyerupai selendang (malela) selama tiga hari tiga malam. Peristiwa tersebut terjadi bertepatan dengan penyerahan tahta kerajaan kepada salah seorang putra yang terpilih dalam sebuah ujian atau sayembara, dimana saat itu sebagai pemenangnya adalah putranya yang kedua yang bernama Prabu Gajah Agung. Prabu Tadjimalela berucap  “ Insun Medal Insun Madangan”, yang mengandung arti :
Insun Medal               = Aku lahir
Insun Madangan        = Aku memberi penerangan
Insun Medal Insun Madangan” berarti  “Aku lahir untuk memberi  penerangan”.
Sejak dari peristiwa itulah kemudian timbul nama “Sumedang”, yang kemudian menjadi sebuah nama kerajaan yang terkenal dengan nama “Kerajaan Sumedang Larang” di mana sebagai nalendranya adalah Prabu Gajah Agung.  Di Kerajaan Sumedang Larang ini pula Prabu Tadjimalela mengajarkan ilmu kasumedangan yang berisi 33 pasal yang kelak kemudian hari menjadi falsafah hidup rakyat kerajaan Sumedang Larang.
Adapun kata Sumedang larang jika ditinjau dari sisi etimologi (asal-usul kata) mengandung arti “ Tanah luas bagus yang jarang bandingannya” (Su artinya bagusmedang artinya luas dan larang artinya jarang bandingannya).

2.2. Sejarah Berdirinya Kerajaan di Sumedang 1468-1530
Suryaman N, dkk (1996) lebih lanjut menjelaskan bahwa yang pertama kali mendirikan kerajaan di daerah Sumedang adalah Dewa Guru Aji Putih ± tahun 1479 Masehi, beliau adalah saudara Prabu Sri baduga Maharaja, Prabu Siliwangi I keturunan raja-raja Galuh, dengan nama kerajaan Tembong Agung yang berpusat pemerintahan di Leuwi Hideung, Darmaraja. Prabu Dewa Guru Aji Putih mempunyai putera yang bernama Prabu Tadjimalela, yang kemudian meneruskan tahta ayahnya di kerajaan Tembong Agung sekitar tahun 1479-1492. Kerajaan Tembong Agung merupakan cikal bakal kerajaan Sumedang Larang. Prabu Tadjimalela yang bergelar Batara Tuntang Buana atau Resi Cakrabuana mempunyai 3 orang putra, yakni :
  1. Prabu Lembu Agung
  2. Prabu Gajah Agung
    1. Sunan Geusan Ulun
Menurut naskah “Layang Darmaraja” sebelum Prabu Tadjimalela menyerahkan tahta kerajaan kepada salah seorang putranya, beliau beliau mengadakan sebuah ujian kepada dua orang puteranya, yaitu Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung, dimana salah seorang diantara keduanya harus meneruskan tahta kerajaan. Namun pada saat itu keduanya tidak berkehendak untuk menjadi raja. Pada saat itu Prabu Gajah Agung menyarankan agar Prabu Lembu Agung yang menjadi raja, namun Prabu Lembu Agung pun menyerahkan agar adiknya saja yang menjadi raja.  Dengan kejadian ini Sang Prabu Tadjimalela menyuruh kedua orang puteranya pergi menuju gunung Sangkan Jaya dan memerintahkan keduanya untuk menunggui “sebilah pedang dan sebuah kelapa muda”.
Setelah sekian lama keduanya menunggu, Prabu Gajah Agung berpamitan sebentar untuk meninggalkan tempat karena merasa haus dan tak kuasa menahan dahaga, maka beliau mengupas kelapa muda lalu meminumnya. Hal tersebut diketahui oleh Prabu Tadjimalela, maka lalu diputuskan bahwa Prabu Gajah Agung didaulat untuk menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang dengan syarat untuk mencari ibu kota sendiri.
Prabu Gajah Agung (Atmadibrata) memindahkan ibu kota dari Leuwi Hideung ke Ciguling (sekarang Desa Pasanggrahan Kecamatan Sumedang Selatan). Dengan kepindahan inilah kemudian beliau dikenal juga dengan nama Prabu Pagulingan. Beliau mempunyai keris yang sangat ampuh yang diberi nama Ki Dukun.  Masa pemerintahan Prabu Gajah Agung antara tahun 1492-1502, kemudian wafat dan dimakamkan di Cicanting Darmaraja.
Adapun Prabu Lembu Agung meneruskan menjadi raja di Tembong Agung, dengan masa pemerintahannya yang tidak lama. Beliau juga dikenal dengan nama Prabu Peteng Aji.  Sedangkan putra Prabu Tadjimalela yang ketiga yakni Sunan Geusan Ulun memilih menjadi seorang Petapa/Resi. Beliau menurunkan keturunan yang tersebar di Limbangan, Karawang dan Berebes.
Prabu Gajah Agung mempunyai putra :
  1. Ratu Istri Rajamantri, kemudian dipersunting oleh Prabu Siliwangi Ratu Dewata, cucu Prabu Siliwangi I dan tidak menjadi ratu karena mengikuti suami ke Pakuan Pajajaran.
  2. Sunan Guling (Mertalaya), yang meneruskan menjadi raja di kerajaan Sumedang Larang, ia wafat dan dimakamkan di Ciguling, Sumedang Selatan. Beliau memerintah antara 1502-1512.
Sunan Guling digantikan oleh puteranya Sunan Tuakan (Tirta Kusuma). Setelah wafat dimakamkan di Heubeul Isuk, Desa Cinanggerang, Kecamatan Tanjungsari. Ia diganti oleh puterinya yang bernama Nyi Mas Ratu Patuakan, yang menikah dengan Sunan Corenda, yang merupakan Cucu Prabu Siliwangi ratu Dewata.
Nyi Mas Ratu Patuakan diganti oleh puterinya yang bernama Nyi Mas Inten Dewata, yang setelah menjadi ratu Sumedang bergelar “Ratu Pucuk Umun”.

Diolah dari Sumber :http://www.sumedangkab.go.id

Post a Comment

Sampaikan Komentar Anda Disini....

Previous Post Next Post