REFLEKSI 47 TAHUN KNPI (Sebuah Coretan dari pinggiran Kabupaten Sumedang)

Selayang Pandang Sejarah KNPI


Dalam catatan sejarah, Komite Nasional Pemuda Indonesia atau lebih viral dengan sebutan KNPI, adalah organisasi kepemudaan yang awalnya merupakan gabungan dari kelompok Cipayung. Kelompok ini merupakan pemuda yang berasal dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)


Menurut M. Ali Akbar, seperti dikutif oleh tirto.id, dalam Biografi Politikus dan Budayawan Ridwan Saidi (2018: 5), diskusi-diskusi itu berlangsung di Cipayung, Bogor.


"Sehingga kelompok ini disebut kelompok Cipayung," tulis Ali Akbar.


Karena banyaknya organ pemuda dari berbagai latar belakang, muncul ide untuk membuat induk dari kelompok-kelompok ini. Akhirnya para tokoh pemuda seperti Akbar Tandjung, David Napitupulu, dan lainnnya berkumpul. Maka, pada 23 Juli 1973, tepat 47 tahun lalu, terbentuklah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Ketua pertamanya adalah David Napitupulu.


Di hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1974, KNPI menyelenggarakan kongres pertama mereka. Di momen itu pula, AD/ART pertama tersusun. “Sejak itu KNPI menjadi wadah tunggal organisasi pemuda, dan ormas mahasiswa terserap di dalamnya,” tulis Didik Supriyanto dalam Perlawanan Pers Mahasiswa: Protes Sepanjang NKK/BKK (1998:37), sebagaimana dikutif oleh tirto.id.


Berdirinya KNPI dimaksudkan untuk menumbuhkan, meningkatkan, dan mengembangkan kesadaran sebagai suatu entitas bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Kala itu organisasi ini langsung mendapat restu dari pemerintahan orde baru dan pada tahun itu pula, mereka mengikuti unjuk rasa mahasiswa dalam penentangan masuknya modal asing. Tahun berikutnya, mereka juga turut serta dalam demonstrasi Malari.


Meskipun dianggap sebagai bagian dari Orde Baru dan sempat diusulkan untuk dibubarkan, namun KNPI tetap bertahan hingga setelah jatuhnya Suharto pada tahun 1998. Setelahnya, Idrus Marham terpilih sebagai Ketua Umum. Ia mewacanakan rejuvenasi KNPI atau penyegaran kembali peran KNPI di tengah realitas politik nasional. Rejuvenasi ini akhirnya merekognisi KNPI untuk independen dan kembali memposisikan pemuda sebagai mitra kritis pemerintah.


Dari catatan peristiwa sejarah tersebut, KNPI sudah cukup tua dan matang dalam menjalankan aktifitas organisasi serta segala bentuk dinamikannya. Sehingga dalam momentum 47 tahun KNPI ini, melakukan refleksi evaluatif terhadap realitas kekinian merupakan sebuah keniscayaan.




[caption id="attachment_9275" align="alignleft" width="349"]Infografis : Infografis : tirto.id[/caption]

Berikut adalah beberapa coretan reflektif yang sekiranya semoga bisa menjadi bahan refleksi atau paling tidak, menjadi perangsang dialektika dan perdebatan yang nantinya akan bermuara pada lahirnya gaya baru (Era News Normal) berwujud pada modifikasi posisi kekinian (Nge-hype) serta pemantapan eksistensi organisasi.


KNPI sebagai Lumbung Ide


Setelah mencermati, mengalami, dan berjibaku dengan Covid-19 dan hari ini kita belum bisa keluar darinya, maka tidak ada kata menyerah di dalamnya: perjuangan harus berumur panjang, bahkan mati suripun jangan.


Maka siasat-siasat perjuangan itu perlu dirumuskan untuk mengelak dari kepunahan, mengelak dari kehancuran dan kehilangan nyawa yang lebih banyak lagi. Dipojok yang lain, terjadinya pandemi mengajarkan kita bahwa manusia dengan segala daya, akal budi, dan kreativitasnya harus mencari ruang ‘perlawanan’ yang sehebat-hebatnya dan seindah-indahnya, terlebih bagi pemuda yang notabene merupakan asset bangsa.


Maka tidak ada kata lain selain terus berjuang, dan perjuangan itu harus dimotori oleh pemuda. Karena itulah KNPI sebagai wadah tempat berhimpunnya para pemuda perlu dijadikan sebagai “Lumbung Ide” untuk merumuskan pemikiran solutif yang dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menyusun tata nilai dan tata kehidupan baru bernegara dan bermasyarakat.


Aktifasi dan Optimalisasi Kaderisasi Pemuda


Pemuda dengan segala predikat, kemampuan, kelebihan, dan kekurangannya merupakan asset bangsa. Dikatakan sebagai asset bangsa, karena pemuda merupakan SDM yang menjadi modal subjek pembangunan. Akan tetapi asset hanya tinggal asset yang kurang bermakna jika tidak ada proses kaderisasi atau pemberdayaan.  Oleh karena itu kaderisasi atau pemberdayaan menjadi keyword agar asset ini semakin berharga.


Berbicara tentang kaderisasi ada baiknya kita merefres dulu pemahaman tentang kader itu sendiri. Istilah kader berasal dari bahasa Yunani, yaitu cadre, yang berarti bingkai. Sementara secara terminologi, kader adalah subyek yang berada dalam suatu organisasi yang bertugas mewujudkan visi-misi organisasi tersebut. Sedangkan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah Kader memiliki pengertian orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam pemerintahan, partai, organisasi dan sebagainya.


Kebutuhan kaderisasi dapat di identifikasi dari jenis kegiatan yang secara spesipik menjadi kebutuhan dan kepentingan organisasi, yaitu :




  1. Kader Pimpinan Organisasi, adalah mereka yang dipersiapkan untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan organisasi dimasa yang akan datang.

  2. Kader Konseptor/Pemikir, adalah mereka yang dipersiapkan untuk mengembang tugas menjadi pemikir.

  3. Kader Penggerak, adalah mereka yang dipersiapkan untuk menggerakan kegiatan-kegiatan organisasi.

  4. Kader Fungsional, adalah mereka yang dipersiapkan untuk menjalankan tugas taktis, dan praktis.

  5. Kader Intelijen, adalah mereka yang secara khusus dipersiapkan untuk melaksanakan tugas-tugas intelijen (dalam konteks luas), dalam rangka kepentingan tertentu.


Urgensi kaderisasi pemuda sangat penting untuk segera  diaktifasi dandioptimalisasi kembali oleh KNPI sebagai rumah besar bagi para pemuda, mengingat peluang, hambatan, tantangan, dan ancaman semakin dinamis terlebih saat ini kita dihadapkan dalam situasi perang melawan covid-19, serta mempersiapkan era baru pasca pandemi.


Membangun Sinergitas


Hari ini kita sepakat bahwa KNPI itu merupakan Mitra Strategis Pemerintah, baik dipusat maupun di daerah. Bermitra dengan pemerintah berarti ada suatu interaksi yang positif-konstruktif (membangun). Dalam konteks bermitra, KNPI mengharapkan support pemerintah terhadap programnya, tetapi juga KNPI diharapkan mensuport program pemerintah, sehingga dalam pola relasi ini diharapkan adanya sinergitas yang kuat antara KNPI dan Pemerintah.


Namun demikian, pola support KNPI juga harus nampak dalam bentuk kritis-konstruktif-solutif-kreatif-intelektualis. Dalam pengertian KNPI tidak boleh membiarkan adanya kebijakan yang kurang produktif bagi masyarakat, dan dalam ketulusan hendak membantu pemerintah sebagai mitra, maka KNPI harus memberikan masukan kritis tetapi membangun, yang dimotivasi oleh niat yang positif dengan cara-cara yang bermartabat, dan harus mampu meberikan solusi alternatif lewat pemikiran-pemikiran kreatif sebagai hasil pergumulan atau refleksi intelektual kaum muda. Oleh sebab itu, melalui kaderisasi sebagai upaya menjadikan KNPI sebagai “Lumbung Ide” saya kira akan berdampak positif bagi kepentingan pembangunan dan pemerintahan.


Saatnya KNPI Melirik Desa


 

Bersambung………………ngantuk boss !!!


 

Oleh: Asep Jazuli (Pengarang Ria, dan Penikmat Kopi)

Post a Comment

Sampaikan Komentar Anda Disini....

Previous Post Next Post