Desa Sebagai Pusat Ekonomi Baru

Modernitas yang bertumpu pada industrialisasi ternyata tidak cukup kuat melawan pandemi. Dari Asia hingga Eropa, kenyataan pahit akan goyahnya perekonomian karena pandemi harus ditelan mentah-mentah. Beruntungnya kita karena memiliki desa dengan dinamika ekonomi yang berbeda dengan kota. Desa-desa di Indonesia kebanyakan bercorak agraris. Pertanian dan kegiatan ekonomi yang bersumber dari alam, seperti perikanan maupun peternakan menjadi pembeda dengan aktivitas ekonomi di kota. Dengan mekanisme seperti ini desa terbukti punya daya tahan pangan yang relatif lebih baik daripada masyarakat perkotaan. Bahkan apabila stok pangan di desa mencukupi, ia sanggup menjadi bantalan stok pangan bagi kota. Namun, tentu saja perlu ada rejuvenasi pertanian maupun distribusi hasil pertanian agar mampu berjalan optimal dan berkembang di masa depan.


Teknologi adalah salah satu kunci penting agar pertanian di Indonesia bisa kembali menjadi primadona. Penggunaan teknologi ini setidaknya harus dilakukan pada dua aspek, yaitu aspek produksi dan aspek distribusi.


Pada aspek produksi, pertanian modern mensyaratkan pertanian yang dikelola secara efektif sekaligus tetap memperhatikan sisi keberlangsungan alam di masa depan. Teknologi pada pertanian organik adalah salah satu contoh tentang bagaimana pertanian tetap berjalan secara produktif dan kelestarian alam tidak dilupakan. Penggunaan obat-obatan dan pupuk kimia yang mempunyai potensi mengurangi nilai guna tanah di masa depan mulai digeser oleh pupuk dan obat berbahan alami dan ramah dengan alam. Kelestarian alam adalah kunci jika kita ingin memastikan sektor pertanian tetap bertahan dan berumur panjang.


Sembari meningkatkan sisi produksi yang ramah alam, kita juga harus menggenjot sisi distribusi. Ramainya penjualan online di Indonesia seharusnya bisa dijadikan peluang oleh sektor pertanian untuk memperluas pasar dan jangkauan. Pasardesa.id yang dikelola oleh pemerintah desa dan masyarakat Panggungharjo, Yogyakarta patut kita jadikan contoh. Kurang lebih 400 UMKM yang bergerak di bidang pertanian, perikanan, peternakan, dan handycraft yang tergabung dalam situs jual beli tersebut bisa menjadi jalan alternatif untuk menggerakkan ekonomi desa sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat pada bahan pangan yang segar dan berkualitas. Jual beli online secara langsung antara penjual dan pembeli juga dapat memotong rantai penjualan melalui tengkulak yang sangat merugikan petani. Di sisi lain, jual beli online juga menguntungkan dari sisi kesehatan karena mengurangi tatap muka antarorang per orang.


Nah, jika skema sedemikian sudah berjalan maka yang dibutuhkan selanjutnya adalah dukungan dari konsumen khususnya masyarakat perkotaan. Masyarakat di kota tak perlu lagi melakukan panic buying karena takut kehabisan stok pangan, lantaran desa sanggup menjamin ketersediaan stok bahan pangan hari ini dan masa mendatang. Membeli produk-produk pertanian desa adalah langkah taktis dan menguntungkan bagi masyarakat, baik di desa maupun di kota sekaligus sebagai langkah yang tepat agar roda perekonomian masyarakat dapat berjalan dengan baik.



Oleh : Budi Arie Setiadi


(Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi)


Dikutip dari sumber “Buku Arah Tatanan Baru. Hidup di Era Pandemi dan Sesudahnya ©Sanggar Inovasi Desa 2020”

Post a Comment

Sampaikan Komentar Anda Disini....

Previous Post Next Post