FmD4FRX3FmXvDZXvGZT3FRFgNBP1w326w3z1NBMhNV5=
items

Pentingnya Pemetaan Sosial Dalam Pemberdayaan Masyarakat

Keberhasilan sebuah pemberdayaan masyarakat yang dilakukan fasilitator ditentukan oleh ketepatan dalam melakukan social mapping atau pemetaan sosial. Dari hasil pemetaan sosial, kita dapat mengetahui dan menganalisis permasalahan apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat. Melalui pemetaan sosial juga, kita mengetahui sumber daya apa yang ada di masyarakat setempat yang nantinya dapat kita gunakan atau maksimalkan dalam menyokong bentuk pemberdayaan yang akan kita terapkan di masyarakat.


Pemetaan sosial adalah proses pengumpulan dan penggambaran (profiling) data dan informasi, termasuk potensi, kebutuhan dan permasalahan (sosial, ekonomi, teknis dan kelembagaan) masyarakat (Robert Chamber, 1992). Singkatnya, pemetaan sosial adalah kegiatan untuk menemukenali permasalahan sosial yang ada di dalam masyarakat. Salah satu tujuan dari pemetaan sosial yaitu menggali informasi terkait masalah, potensi dan kebutuhan yang ada di masyarakat (sosial, budaya, ekonomi dan politik). Namun sebenarnya, tujuan social mapping lebih dari itu, yaitu bagaimana masyarakat sadar akan masalah yang sedang dihadapinya, masyarakat tahu akan potensi-potensinya, dan paham akan kebutuhannya.




[caption id="attachment_12903" align="aligncenter" width="626"]Pentingnya Pemetaan Sosial Dalam Pemberdayaan Masyarakat Gambar : freepik.com[/caption]

Jadi, pemetaan sosial bukan hanya pengumpulan data, yang hasilnya cukup diketahui masyarakat dan lain-lain, namun pemetaan sosial harus menyadarkan masyarakat dan membentuk perilaku masyarakat untuk bergerak mengembangkan diri, mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sebagai solusi dari masalah yang dihadapinya.


Bentuk-bentuk pemberdayaan seperti apa yang akan dilakukan pada masyarakat seyogianya juga merupakan kesimpulan solusi setelah menelaah hasil pemetaan sosial yang ada. Bentuk pemberdayaan kepada masyarakat ditentukan oleh karakter sosial yang kita jumpai. Jika fasilitator tidak mampu melakukan pemetaan sosial dengan baik dan tepat, maka kemungkinan besar pemberdayaan yang dilakukan pada masyarakat juga tidak memberikan hasil yang maksimal, bahkan mungkin meninggalkan masalah baru bagi masyarakat. Hal tersebut dikarenakan program yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Niat kita ingin memberikan solusi atas sebuah problem yang ada di masyarakat, tapi yang terjadi malah membuat masalah baru di masyarakat. Niat baik tak cukup untuk melakukan perubahan.


Salah satu kunci pemetaan sosial yang baik dan benar adalah proses penggalian informasi dengan keterlibatan masyarakat yang dominan, karena sesungguhnya masyarakatlah yang tahu akan masalah, potensi, dan kebutuhannya. Maka itu, fasilitator dalam melakukan pemetaan sosial hendaknya melibatkan masyarakat secara lebih luas dan memandang permasalahan secara objektif dari sisi masyarakat itu sendiri.


Fasilitator harus meletakkan posisi masyarakat sebagai subjek yang akan memberdayakan dirinya, bukan sebagai objek pasif yang kita berdayakan. Kesalahan kita dalam menempatkan masyarakat sebagai objek akan membuat kita merumuskan masalah hanya berdasarkan perspektif kita. Padahal, pada prinsipnya, masyarakatlah yang mengetahui apa sebenarnya permasalahan mereka dan masyarakatlah yang akan memberdayakan dirinya sendiri. Tugas fasilitator adalah mendampingi proses pemberdayaan yang dilakukan masyarakat tersebut. Memecahkan suatu masalah dengan sudut pandang kita tidak akan menjadikan masalah tersebut terselesaikan, bahkan terkadang hal yang kita lakukan dalam rangka memecahkan masalah sosial bisa membuat atau menciptakan masalah sosial baru dan dampak negatifnya akan diterima oleh masyarakat itu sendiri.


Fasilitator harusnya menempatkan masyarakat sebagai subjek. Sedangkan objeknya adalah masalah yang fasilitator temukan bersama masyarakat. Jika yang dibutuhkan masyarakat adalah bibit untuk perikanan air tawar, maka jangan kita beri bibit untuk tanaman cokelat. Justru perikanan air tawar itu yang kita dorong lebih baik sebagai penguatan ekonominya. Prinsipnya, baik menurut kita belum tentu baik menurut masyarakat. Kesalahan-kesalahan cara menyusun program bersama itu bisa kita hindari jika pemetaan sosialnya tepat dan sesuai.


Ketepatan kita menemukan cara dalam pemberdayaan masyarakat membuat hasil dari pemberdayaan tersebut bisa bertahan lama. Seluruh inisiatif dan pelibatan masyarakat mesti kita lakukan dari awal mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasinya. Jika masyarakat kita libatkan dari awal, maka masyarakat akan merasa bahwa masalah yang ditemukan merupakan masalah mereka dan mereka juga yang harus menyelesaikan masalah tersebut. Implikasinya, masyarakat akan bertanggung jawab atas pemberdayaan yang dilaksanakan mulai dari perencanaan program sampai evaluasi dari program pemberdayaan tersebut.


Disarikan dari Buku Membangun Desa, Membangun Bangsa | Tim Kerja Desa Berdaya Mandiri

0/Post a Comment/Comments

73745675015091643