Sejarah Hidup Ibn Khaldun

Di benteng Qal’at Ibn Salama yang sangat terisolasi, Ibn Khaldun (1332-1406) mengawali babak baru dalam kehidupannya. Setelah menghabiskan seluruh usia dewasanya dalam intrik politik, mengabdi pada berbagai penguasa di Afrika Utara dan Andalusia, berhubungan dengan para bangsawan dan para pemimpin suku, dia siap merumuskan makna sejarah, khususnya sejarah kebangkitan negara.




[caption id="attachment_19810" align="aligncenter" width="700"] Ilustrasi Mozaik Ibn Khaldun. tirto.id/Sabit[/caption]

Di dalam benteng inilah—menurut Mohammad R. Salama dalam Islam, Orientalism, and Intellectual History: Modernity and the Politics of Exclusion since Ibn Khaldun (2011)—Ibn Khaldun menulis Muqaddimah, karya besarnya tentang sejarah bangsa Arab dan Berber. Dia berkata, “Saya menyelesaikan pendahuluannya dengan cara yang tidak biasa (al-nahw al-gharib). Saya terkondisikan oleh keterpencilan itu” (Salama, 2011: 79).


Setelah empat tahun mengucilkan diri dan menghasilkan prestasi keilmuan yang mengagumkan, Ibn Khaldun ingin kembali ke Tunisia untuk melanjutkan tulisannya ihwal sejarah bangsa-bangsa Arab, Berber, dan Zanata. Dalam fase menulis berikutnya, dia perlu menggunakan perpustakaan demi memastikan sumber-sumber historisnya. Pelbagai sumber itu hanya bisa didapatkan di pusat-pusat kota besar (Salama, 2011: 80).


Oleh karena itu, Ibn Khaldun terpaksa berdamai dengan Sultan Tunisia, Abu al-‘Abbas, yang ia kirimi surat tentang keinginannya untuk kembali. Sebelumnya, dia telah kehilangan kepercayaan dari Abu al-‘Abbas dan harus melarikan diri ke Biskra supaya tidak ditangkap, tetapi adik laki-lakinya, Yahya, tetap ditangkap dan dipenjarakan. Abu al-‘Abbas tidak saja mengizinkan Ibn Khaldun kembali ke Tunisia, tapi juga memberi perlindungan dan bahkan, seperti masa lalu, berkonsultasi tentang pelbagai masalah negara dengannya.

Baca Selengkapnya Klik Disini  

https://tirto.id/cL6R?utm_source=CopyLink&utm_medium=Share

Post a Comment

Sampaikan Komentar Anda Disini....

Previous Post Next Post